Ah, aku rindu bergelut dengan diksi ini. Aku rindu pada nyala api dalam hati kecilku saat tawa tak perlu dicari. Aku rindu pada masa saat khawatir bukanlah khawatir yang akan menggigit bibirku. Aku rindu pada waktu aku tak perlu menyadari saat keriput mulai menghapus muda. Aku rindu pada saat aku tak perlu sepenuhnya sadar atas hidup yang kian menggila. Aku rindu pada saat aku tak terlalu cengeng ketika ketidakpastian menggeliat dalam amigdalaku. Aku rindu pada saat angin berlalu tanpa perlu bertanya ke mana ia akan membawa semua idealismeku. Aku rindu pada saat tanya bukanlah benalu yang beringas menggerogoti diriku.
Lalu, apakah rindu justru mendatangkan pilu?
Aku pun tak mengira. Aku pun tak paham. Aku pun tak bisa melanjutkan tulisan ini karena semuanya tersendat padat dalam tenggorokanku.
Comments
Post a Comment